Lik Sod Seorang blogger pemula. Suka berbagi hal-hal yang diketahui dan dianggap perlu. Motto hidupnya dalah: sekecil apapun, hidup harus memberi manfaat. Blog ini adalah upaya memberi manfaat kepada orang lain melalui blog.

Penyebab Tsunami Selat Sunda Kombinasi Longsor Bawah Laut dan Purnama

kombinasi-longsor-bawah-laut-dan-bulan-purnama-penyebab-tsunami-banten-lampung

Penyebab Tsunami Selat Sunda. Kombinasi longsor bawah laut dan bulan purnama adalah penyebab tsunami Banten. Para ahli bidang geologi dan geofisika menyatakan bahwa gelombag Tsunami yang menghantam Pantai Barat Banten dan Lampung disebabkan oleh terjadinya erupsi Anak Gunung Krakatau. Erupsi tersebut, menurut ahli, menghasilkan pergeseran tanah di bawah permukaan air laut.

Sutopo Purwo Nugroho yang merupakan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, menyebutkan bahwa penyebab tsunami di  Lampung Selatan dan Pandeglang adalah berkemungkinan akibat kombinasi antara longsor bawah laut sebagai akibat adanya pengaruh erupsi Anak Gunung Krakatau dan dampak dari gelombang pasang ketika bulan purnama.

“Penyebab tsunami tersebut bukanlah gempa bumi. tetapi dimungkinan karena adanya longsor di bawah laut akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Dan hal itu berbarengan dengan timbulnya gelombang pasang sebagai akibat bulan purnama,” jelas Sutopo di akun media Sosialnya.

Dan Sutopo menambahkan, bahwa Fenomena tsunami yang terjadi di Selat Sunda adalah sangat langka. Seperti diketahui bahwa letusan Gunung Anak Krakatau tidak begitu besar. Tremor memang terjadi terus tetapi tidak dalam frekuensi tinggi yang patut dicurigai.

“Tidak terdapat gempa yang memicu tsunami ketika itu. Kondisi itulah yang menjadikan sulit menentukan penyebab tsunami pada awal peristiwa,” tandas Sutopo.

Penyebab Tsunami Selat Sunda Dipicu Erupsi Anak Krakatau

Gelombang Tsunami yang menghantam Pantai Lampung Selatan dan Anyer Banten, pada Sabtu malam (22/12/2018) sangat mengejutkan banyak pihak. Karena ketika sebelum terjadi Tsunami tidak ada gempa yang mendahului pada wilayah tersebut.

Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam pernyataan tertulis menyampaikan bahwa berdasarkan laporan dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) tidak terjadi gempa besar yang bisa memicu terjadinya gelombang tsunami, baik gempa di wilayah sekitar Selat Sunda ataupun di Samudera Hindia. Maka “fenomena yang terjadi berupa air naik ke daratan bukanlah tsunami.”

Menurutnya, fenomena tersebut merupakan gelombang pasang, apalagi ketika itu bulan purnama sehingga memicu permukaan air laut meninggi.

Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda sejak 22/12/2018 pagi hingga siang memang meletus. tetapi letusannya kecil alias tidak besar. Oleh karena itu tidak menimbulkan tsunami atau menyebabkan gelombang tinggi. Terjadinya gelombang tinggi di Lampung Selatan dan Anyer bukan dikarenakan oleh erupsi Gunung Anak Krakatau. pic.twitter.com/YfDp2Gx1rz
— Sutopo Purwo Nugroho (@Sutopo_PN) December 22, 2018

BNPB kembali menegaskan bahwa fenomena gelombang pasang ini tidak ada kaitannya dengan letusan Gunung Anak Krakatau, yang mengalami erupsi sejak Sabtu pagi.

Secara terpisah BMKG menyampaikan bahwa hasil pengamatan sementara menunjukkan tsunami di Serang ketinggiannya mencapai 0,9 meter. Sementara tsunami dengan ketinggian mencapai antara 0,28 meter sampai 0,35 meter terjadi di wilayah Banten, Pelabuhan Panjang, dan Kota Agung Lampung; dan “peristiwa tersebut bukan disebabkan oleh adanya aktivitas gempa bumi tektonik.”

Informasi Terbaru

Tetapi berdasarkan informasi terbaru via media sosial resmi BMKG, disampaikan bahwa Peristiwa Tsunami di pantai barat Banten bukan dipicu oleh peristiwa gempa bumi .

Tsunami di Banten dan Lampung dipastikan oleh karena peristiwa erupsi Anak Gunung Krakatau.

Sebagaimana dilansir dari laman DailyMail pada Ahad (23/12/2018), para ahli Geologi dan Geofisika Australia menyakini bahwa peristiwa tsunami di kedua wilayah tersebut disebabkan oleh erupsi Anak Gunung Krakatau yang memang dekat posisinya dan telah menyemburkan abu vulkanik ke udara.

Biro Meteorologi Australia terus memantau keadaan dan sudah menerbitkan peringatan merah kepada semua pilot maskapai penerbangan yang beroperasi di sekitar wilayah Anak Gunung Krakatau bahwa awan abu vulkanik menyebar ke barat daya dari gunung berapi yang berketinggian 55.000 kaki tersebut.

Demikian informasi seputar Penyebab Tsunami Selat Sunda.

Lik Sod Seorang blogger pemula. Suka berbagi hal-hal yang diketahui dan dianggap perlu. Motto hidupnya dalah: sekecil apapun, hidup harus memberi manfaat. Blog ini adalah upaya memberi manfaat kepada orang lain melalui blog.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *